MAJENE — Kain bukan sekadar penutup tubuh bagi masyarakat Mandar. Di balik setiap helai sutera yang ditenun dengan tangan, tersimpan nilai, status sosial, dan jejak sejarah yang mengikat identitas adat dari generasi ke generasi. Dikenal dengan sebutan Sure’, sarung sutera khas Mandar hadir dalam beragam jenis, masing-masing memiliki nama, corak, serta fungsi adat yang berbeda.
Berikut ragam Sure’ Mandar yang hingga kini tetap dijaga sebagai warisan budaya tak ternilai.
Sure’ Padhadha: Simbol Keanggunan Perempuan Bangsawan Mandar
Sure’ Padhadha merupakan salah satu corak sarung sutera paling sakral dalam tradisi Mandar. Kain ini secara khusus diperuntukkan bagi perempuan bangsawan adat yang dikenal sebagai Puang Tobaine. Penggunaannya pun terbatas, hanya dikenakan pada momen-momen penting seperti upacara pelantikan adat dan pernikahan adat.
Lebih dari sekadar busana, Sure’ Padhadha merepresentasikan kehormatan, kelembutan, dan peran strategis perempuan bangsawan dalam menjaga kesinambungan nilai adat Mandar. Setiap helai benang sutera menjadi penanda keterhubungan antara masa lalu dan masa kini, sekaligus penjaga identitas budaya yang tetap lestari.
Sure’ Pangulu: Busana Kepemimpinan dan Kewibawaan Adat
Dalam struktur adat Mandar, Sure’ Pangulu menempati posisi penting sebagai simbol kepemimpinan. Kain ini dikenakan oleh Pappuangang Tommuane, para pemangku adat yang memikul tanggung jawab menjaga hukum dan tradisi Mandar.
Dengan dominasi warna cokelat dan ungu yang dipadu aksen kotak-kotak hitam, Sure’ Pangulu memancarkan ketegasan, kebijaksanaan, dan kesiagaan. Coraknya mencerminkan kedalaman pengetahuan adat serta tanggung jawab moral seorang pemimpin dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat.
Sure’ Mara’dia: Lambang Tertinggi Kedaulatan Raja Mandar
Sure’ Mara’dia berada di puncak hierarki sarung sutera Mandar. Kain ini hanya dikenakan oleh Raja atau Mara’dia pada acara resmi dan pelantikan adat.
Sebagai simbol kekuasaan tertinggi, Sure’ Mara’dia bukan hanya menandai status, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kekuasaan adat selalu berjalan beriringan dengan tanggung jawab melindungi rakyat dan budaya. Kain ini merekam perjalanan sejarah kepemimpinan Mandar yang sarat nilai kebijaksanaan dan pengabdian.
Sure’ Beru’-Beru’: Identitas Kehormatan Keluarga Bangsawan
Sure’ Beru’-Beru’ dikenal sebagai corak sarung sutera yang diperuntukkan bagi keluarga bangsawan Mandar. Kain ini lazim dikenakan dalam acara resmi dan upacara adat, menjadi simbol persatuan dan kehormatan keluarga.
Melalui corak dan kelembutan sutera yang khas, Sure’ Beru’-Beru’ merefleksikan komitmen keluarga bangsawan dalam menjaga martabat, nilai adat, dan kesinambungan tradisi yang diwariskan leluhur.
Sure’ Gattung Layar: Jejak Keberanian Pelaut Mandar
Laut adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang Mandar. Sure’ Gattung Layar hadir sebagai penghormatan bagi para pelaut tangguh yang mengarungi samudra.
Dengan warna dasar hitam yang dipadu aksen putih dan cokelat, corak kain ini menggambarkan dinamika laut, badai, dan keberanian. Sure’ Gattung Layar menjadi simbol keterampilan, ketangguhan, serta hubungan spiritual masyarakat Mandar dengan lautan sebagai sumber kehidupan.
*Sure’ Pangulu Padang: Rekam Jejak Perjalanan Leluhur Mandar
Sure’ Pangulu Padang menyimpan kisah sejarah perjalanan I Manyambungi saat mengunjungi wilayah padang. Kain ini menjadi saksi bisu bagaimana interaksi, perjalanan, dan pengalaman leluhur membentuk perkembangan budaya Mandar.
Coraknya yang khas merepresentasikan jejak perjalanan dan nilai-nilai yang dibawa pulang, menjadikan Sure’ Pangulu Padang sebagai simbol dinamika budaya yang terus tumbuh seiring perjalanan waktu.
Sure’ Ringgi’: Keanggunan dan Martabat Bangsawan Mandar
Sure’ Ringgi’ merupakan corak sarung sutera yang melambangkan kehormatan dan keanggunan keluarga bangsawan. Kain ini kerap dikenakan dalam acara. (Adv-sub)









