MAMUJU – Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Dispoparekraf) Provinsi Sulawesi Barat, Bau Akram Dai, mendampingi Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, pada kegiatan perayaan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang (IMTK) yang dipusatkan di Tamalea, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, pada Sabtu, 31 Oktober 2026.
Perayaan satu abad tersebut menjadi momentum bersejarah bagi masyarakat Kalumpang, khususnya umat Gereja Kristen Sulawesi Barat (GKSB), untuk mengenang perjalanan masuknya Injil pada 1926.
Sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran kegiatan tersebut, Gubernur Sulbar turut menyerahkan bantuan sebesar Rp50 juta kepada panitia penyelenggara untuk membantu memenuhi kebutuhan persiapan peringatan sekaligus menyambut kedatangan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.
Gubernur juga menyampaikan tentang sejarah, keindahan, serta kekayaan budaya Kalumpang yang telah menjadi bagian dari identitas Sulawesi Barat.
Secara khusus, Suhardi Duka menyebut kain tenun Sekomandi sebagai warisan budaya yang memiliki nilai seni tinggi.
“Begitu kuatnya Sekomandi, begitu tingginya nilai seni dan nilai budaya Sekomandi itu. Olehnya itu, banggalah kita. Bukan hanya orang Kalumpang yang bangga, saya pun bangga dengan Sekomandi,” ujarnya.
Selain memiliki makna keagamaan, peringatan ini juga menjadi ruang refleksi terhadap perjalanan sejarah, perkembangan masyarakat, serta pelestarian nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang tumbuh di wilayah Kalumpang.
Rangkaian perayaan sendiri sudah berlangsung sejak 27 Oktober dan berakhir tanggal 2 November 2026.
Berbagai kegiatan keagamaan dan kebudayaan menjadi bagian dari acara tersebut, di antaranya napak tilas sejarah, pertunjukan seni tradisional, festival budaya masyarakat adat, musik, serta pameran kerajinan lokal, termasuk tenun Sekomandi yang menjadi salah satu kekayaan budaya Sulawesi Barat.
Kepala Dispoparekraf Sulbar, Bau Akram Dai, menyampaikan bahwa perayaan satu abad Injil Masuk Tanah Kalumpang memiliki nilai historis dan budaya yang sangat penting bagi daerah. Menurutnya, momentum tersebut tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat identitas dan keberagaman masyarakat Sulawesi Barat.
“Perayaan 100 Tahun Injil Masuk Tanah Kalumpang bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah, memperkuat nilai-nilai kebersamaan, serta mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat Sulawesi Barat,” ungkap Bau Akram.
Bau Akram mengatakan, kegiatan tersebut juga memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bagian dari destinasi wisata religi di Sulawesi Barat. Kekayaan sejarah penyebaran Injil, keberadaan situs-situs bersejarah, monumen peringatan, serta tradisi masyarakat setempat merupakan potensi yang dapat dikemas menjadi daya tarik wisata berbasis sejarah dan keagamaan.
“Kami melihat Kalumpang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai salah satu tujuan wisata religi. Nilai sejarah yang dimiliki daerah ini dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat perjalanan sejarah, kehidupan sosial, dan kebudayaan masyarakat Sulawesi Barat,” jelas Bau Akram.
Menurutnya, pengembangan wisata religi tersebut perlu dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah kabupaten, komunitas gereja, tokoh adat, masyarakat, serta pelaku industri pariwisata.
“Pengembangan pariwisata tidak hanya berbicara tentang keindahan alam, tetapi juga bagaimana mengangkat sejarah, tradisi, dan kehidupan masyarakat sebagai daya tarik wisata. Kehadiran pengunjung harus mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pengembangan UMKM, produk ekonomi kreatif, kuliner, kerajinan, dan jasa pariwisata lokal,” tambah Bau Akram.
Ia menegaskan, potensi wisata religi Kalumpang perlu didukung dengan peningkatan aksesibilitas, fasilitas pendukung, penataan kawasan bersejarah, serta promosi yang berkelanjutan. Dengan demikian, perayaan satu abad Injil Masuk Tanah Kalumpang dapat menjadi titik awal penguatan destinasi wisata berbasis sejarah dan budaya yang tetap menghormati nilai-nilai keagamaan serta kearifan lokal masyarakat.
Melalui momentum tersebut, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat diharapkan terus memperkuat sinergi dalam mengembangkan potensi pariwisata daerah secara inklusif dan berkelanjutan.
Kalumpang tidak hanya dikenal sebagai wilayah yang memiliki sejarah penting bagi perkembangan agama Kristen di Sulawesi Barat, tetapi juga sebagai kawasan yang menyimpan kekayaan budaya dan potensi ekonomi kreatif untuk mendukung kemajuan pariwisata daerah.
Naskah












